BERDO’A DAN MENDO’AKAN
CERPEN : Yusep Muhamad Rafly (1164020176), Mahasiswa Jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SGD BANDUNG
Sekarang
saya sudah menjadi seorang Mahasiswa di Bandung. Dan saya selalu ingat
kata-kata Nenek waktu saya masih duduk di bangku SMP.
“Nak,
nanti mah kalo kamu sudah SMA dan meneruskan Kuliah kamu harus rajin belajar,
kamu harus bisa mengajarkan adik kamu belajar mengaji, nanti kamu dan adik kamu
bisa membacakan surah Yasin untuk nenek jika nenek sudah meninggal”
itu
yang pernah beliau sampaikan kepada saya waktu itu.
Tidak
terasa waktu berjalan begitu cepat pada waktu itu saya berjalan mencari sebuah
masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur, saya menemukan sebuah masjid yaitu
masjid Al-Kaustar yang bertempat di kampung cigagak desa cipadung.
Sesudah
saya selesai sholat saya bertemu dengan DKM di masjid tersebut, kebetulan saya
di beri sebuah tugas oleh dosen untuk meliput berita seputar masjid. Saya
menyapa bapak DKM yang bernama bapak aceng jamaludin atau sering akrab di sebut
abeh.
“Assalamu’alaikum,
pak? Mau bertanya pak, kalau rumah DKM masjid ini dimana ya pak? Saya ingin
bertemu pak dengan beliau. “ sapaku.
“Wa’alaikumsalam.”
Oh , itu saya sendiri nak , ada keperluan apa yah?.” Jawab pak aceng.
“Saya
Yusep pak dari UIN, jadi begini di kampus ada tugas dari dosen untuk meliput
sebuah berita di setiap kegiatan yang ada di masjid Al-Kaustar ini, sekaligus
saya ingin meminta izin ke bapak yang mempunyai jabatan sebagai DKM di sini
pak.” sapaku
“iya
, boleh-boleh saja nak silahkan.” Jawab pak aceng.
Bapak Aceng jamaludin pun berbincang(ngobrol)
dengan saya seputar kegiatan yang selalu di lakukan atau di laksanakan di
masjid Al-Kaustar tersebut. Sesudah itu kami berbincang banyak hal tentang
kegiatan lalu kami berbincang seputar ziarah kubur. Beliau sangat sering
berziarah ke kuburan atau makam keluarga sekaligus kepada orang-orang terdahulu
yang sudah menyebarkan islam di indonesia khususnya di pulau jawa.
Lalu
saya bertanya kepada pak Aceng Jamaludin.
“Pak,
kenapa islam mengajarkan kita untuk berziarah kubur, apa yang menjadi
manfaatnya ?”, tanya saya ke pak aceng.
“Manfaat
berziarah itu untuk mengingatkan kita kepada akhirat atau adanya kematian umat
manusia. Begitu juga ziarah ke makam para wali dan orang shaleh merupakan sebuah
kebaikan yang dianjurkan”, jawab pak aceng.
Oia,
kalian tau tidak, Pada masa awal-awal Islam, Rasulullah SAW memang pernah
melarang umat Islam berziarah ke kuburan, mengingat kondisi keimanan mereka
pada saat itu yang masih lemah. Serta kondisi sosiologis masyarakat arab masa
itu yang pola pikirnya masih didominasi dengan kemusyrikan dan kepercayaan
kepada para dewa dan sesembahan. Rasulullah SAW mengkhawatirkan terjadinya
kesalah pahaman ketika mereka mengunjungi kubur baik dalam berperilaku maupun
dalam berdo’a. Akan tetapi bersama berjalannya waktu, alasan ini semakin tidak
kontekstual dan Rasulullah pun memperbolehkan berziarah kubur. Demikian
keterangan Rasulullah SAW dalam Sunan Turmudzi no 973”, ini artikel yang saya
temukan di internet.
Lalu,
ketika pak Aceng Jamaludin pergi ke Makam, pak Aceng Jamaludin selalu memimpin
untuk membacakan do’a yang ditutup dengan membaca surah Yasin, yang menutup
semua do’a-do’a. Saya sangat senang, karena saya mendapatkan ilmu baru ataupun
sebuah pengetahuan daro bapak Aceng Jamaludin ini.
Ketika
itu saya langsung ingat dengan perkataan dari nenek sayang yang menyuruh saya
untuk Berdo’a dan Mendo’akan nenek jika suatu saat nenek saya meninggal. Dan
berkat bapak Aceng Jamaludin bahwa Berdo’a dan Mendo’akan orang yang sudah
meninggal atau orang yang sudah meninggalkan kita semua di Dunia itu sangatlah
wajib akrena orang yang sudah meninggal juga membutuhkan sebuah Do’a dari kita
semua yang masih hidup.
Saya
sempat bertanya juga kepada bapak Aceng Jamaludin.
“lalu,
Bapak pernah Ziarah kemana saja pak?”. Tanya saya.
“kalau
masalah ziarah, bapak sudah berkeliling ke beberapa makam para wali yang ada di
indoseia , misalnya ke bogor, ke garut , dan beberapa kota yang lainnya.
Pokonya ke daerah makam para wali yang ada di indonesia khususnya yang ada di
daerah pulau jawa bapak sangat sering berziarah.” Jawab bapak Aceng Jamaludin.
“Oh
iya pak, sering kali orang-orang melakukan ziarah kubur dalam menjelang
Ramadhan, kenapa pak?” tanya saya.
“ hal ini, Sudah menjadi tradisi selama ratusan tahun, ummat Islam Indonesia senantiasa berziarah kubur menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.Orang Jawa menamakannya 'nyekar' atau 'nyadran', orang Sunda menamakannya 'nadran', bahkan bulan Ramadhan memang bulan penuh berkah, bahkan sebelum kedatangannya. Para pembersih makam (kuburan) akan mendapat bagian rezeki yang lumayan pada tiap menjelang Ramadhan. Juga para pembaca doa (ustadz) yang membantu para peziarah membaca doa-doa tahlil, biasanya kebanjiran order dari para peziarah yang mungkin tidak bisa mengaji sendiri. Anak-anak kecil yang menyewakan bangku kayu juga kecipratan rezeki dari para peziarah. Yang tak kalah ramainya adalah pedagang bunga dadakan yang memenuhi pintu masuk ke areal pekuburan hingga membludak ke trotroar jalan disekitarnya. Demikian juga dengan juru Parkir dadakan, karena banyaknya kendaraan yang memenuhi sisi badan jalan untuk parkir karena terbatasnya areal parkir di dalam pekuburan. Juga para pengemis biasanya membludak di pintu keluar, yang mengharapkan sedekah dari para peziarah. jadi, secara ekonomi, ziarah kubur menjelang Ramadhan mendatangkan rezeki bagi banyak orang.” Jawab bapak Aceng Jamaludin sambil tersenyum.
“Begitu
ya pak, saya jadi tau sekarang hehe” sapa saya.
Dalam hasil obrolan saya dengan bapak aceng
jamaludin ini, saya jadi mengetahui bahwa ziarah kubur biasanya di lakukan ke
makam orangtua dan anggota keluarga lainnya yang telah pergi menemui sang
Khalikn. Ziarah ke makam orangtua akan dicatat sebagai bhakti kita kepada kedua
orang tua kita.
Seperti yang Rasulullah Saw katakan :
"Barang siapa yang menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau salah satu
dari keduanya setiap hari Jum'at, niscaya akan diampuni baginya dan dicatat
sebagai bakti (kepada keduanya)." (HR. Imam At-Thabrani di dalam Al-Mu'jam
Al-Ausath VI/175 no.6114, dan diriwayatkan pula oleh Imam As-Suyuthi di dalam
kitab Al-La'ali' Al-Mashnu'ah Fi Al-Ahadits Al-Maudhu'ah II/440 no.2526).
“jadi begini nak , Ziarah kubur merupakan salah
satu ibadah yang mempunyai hikmah, keutamaan dan manfaat bagi orang yang
berziarah maupun orang meninggal yang diziarahi.” sapa dari bapak Aceng
Jamaludin.
Semenjak itu , saya menjadi tahu betapa penting
kita berziarah kepada orangtua , keluarga , maupun kepada para wali dan juga
orang - orang terdahulu yang sudah berjuang untuk menyebarkan agama islam di
indonesia khususnya di pulau jawa yaitu di jawa barat.
Berawal dari sebuah pencarian Masjid untuk
sebuah tugas meliput nerita kegiatan dari dosen, dan tanpa di sengaja dari
awalnya saya tidak tahu menjadi lebih tahu , saya sangat senang sekali. Dari
mulai pengalaman hidup. Hingga saya dipertemukan dengan bapak aceng jamaludin
ini. Hal ini adalah sebuah kebahagian berikut sebuah kesenangan tersendiri bagi
saya bisa disebut juga kenikmatan yang luar biasa yang telah menjadi titik
tolak sebuah perubahan HidayahNya dalam keindahan Islam.
“Subhanallah.” (Dalam hati, saya berkata seperti itu)
Tidak
terasa waktu berlalu dengan cepat , sesudah saya berbincang dan ngobrol panjang
lebar dalam beberapa jam dengan DKM masjid Al-kaustar yaitu bapak Aceng
Jamaludin , karena adzan Ashar berkumandang , lalu obrolan kita selesai dan
sayapun langsung mengambil air wudhu untuk melaksanakan sebuah kewajiban yaitu
shalat.
Lalu
sesudahnya saya selesai melaksanakan shalat ashar , sayapun langsung berpamitan
kepada bapak Aceng Jamaludin untuk bergegas pulang dan meninggalkan Masjid yang
sudah saya kunjungin untuk sebuah tugas berita kegiatan itu.
Mungkin
saya termasuk orang yang beruntung , klarena mendapatkan sebuah ilmu baru
ataupun sebuah pengetahuan baru seputar keislaman, dan hal ini di dapat secara
gratis dari bapak Aceng Jamaludin. Ada sebuah pepatah mengatakan bahwa ilmu itu
tidak akan berat untuk kita bawa kemanapun itu , kapanpun itu dan dimanapun
kita sedang berada.
Sahabatku...
Sungguh
luas ilmu dan wawasan yang bisa kita dapat kapanpun dan dimanapun kita sedang
berada atau berdiri, karena dengan niat dan usaha yang sungguh-sungguh semua
pasti akan ada jalannya. Selagi kita masih muda gapailah ilmu sampai ke negeri
china karena dengan ilmu kita bisa melakukan hal apa yang kita inginkan, tapi
kalau kita tidak berilmu kita tidak dapat melakukan apa-apa.
Inilah
Jalanku, Inilah jalan panjangku, izinkan aku berada di Jalan cinta para pejuang,
berada di Jalan dakwah penuh cinta… ( Karena Surga itu Manis ).
BIOGRAFI PENULIS
Moch Rafly, nama lengkapnya adalah Yusep Muhammad Rafly, Lahir di
Garut, kampung sukadana, kelurahan kota kulon, kecamatan Garut kota, kabupaten
Garut, pada tahun 1996.
Pendidikan,
SDN kota kulon II GARUT, pada tahun 2002, SMPN 4 GARUT pada tahun 2008,dan di
SMK YPPT GARUT pada tahun 2011. Dan sekarang melanjutkan ke perguruan tinggi
jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung
Djati Bandung.
Hobi
yaitu bermain sepak bola dan futsal, cita-cita yaitu menjadi orang sukses yang
berguna bagi masyarakat dan negara, dan mati dalam keadaan khusnul khotimah.
Semoga buku yang berisikan cerpen ini bermanfaat bagi pembaca
khususnya bagi umat muslim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar